Serangan kaum LGBT akhir-akhir ini semakin deras. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga secara global. Terjadi perubahan mainstream tadinya orang-orang gay adalah orang-orang yang terpinggirkan. Orang-orang yang tidak memiliki suara. Sekarang kita melihat mereka menembus infrastruktur politik terutama di negeri-negeri Barat, Eropa, Amerika, Inggris dan berbagai negeri yang menganut paham liberalis. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Ing. Misrigozan, M.TEC dalam khutbah jumat yang disampaikannya di Masjid At-Tauhid Arief Rahman Hakim Kampus UI Salemba pada tanggal 18 Agustus 2023.
Prof. Misrigozan menceritakan bahwa kaum LGBT tidak lagi menggembar-gemborkan mencari peluang, tetapi mereka sudah masuk ke dalam infrastruktur politik dan pendidikan. Ada sekolah wanita di Amerika Girls School. Saat guru masuk kelas mengucapkan ‘good morning girls.” Guru ini langsung diprotes oleh murid-muridnya yang girls. Mereka tidak ingin dipanggil “girls.” Guru tersebut diadili di pengadilan karena mengucapkan perkataan yang sangat sehat sangat normal tetapi diterima dan didengar oleh kuping-kuping yang tidak normal.
Baru-baru ini kalau kita amati banyak sekali perdebatan di channel youtube tentang panggilan he or she. Mereka ingin mengubah gramatical. Mereka tidak ingin lagi dipanggil he atau she. Tidak ingin dipanggil dalam bentuk ketiga tapi bentuk sampai ke-70. Bahkan sampai ke-100 terserah yang mereka mau. Ketika ditanya ingin dipanggil apa? Ada yang mengatakan ingin dipanggil dengan panggilan “jiwa yang mencari”. Pokoknya mereka tidak ingin dipanggil dengan he atau she. Mereka ingin mengubah grammatical. Ini sebuah kekacauan yang luar biasa, tutur Prof. Misrigozan dihadapan ribuan jamaah yang khusyu’ menyimak khutbahnya.
Dulu, yang disebut orang yang agak tidak normal itu laki-laki berpakaian perempuan entah itu serius atau bercanda. Atau perempuan berpakaian atau berperilaku seperti anak laki-laki. Tomboy. Tapi sebenarnya dia masih menyebut dirinya perempuan. Sekarang, sudah tidak malu lagi orang brewok, macho dan sebagainya berpakaian pink. Pakai baju perempuan. Dan tidak mau dipanggil perempuan juga. Ini kegilaan yang luar biasa.
Dengan merujuk kepada jurnal Science tahun 1993, Prof. Misrigozan menerangkan bahwa seorang peneliti bernama Dinhammer menemukan lokus genetik XQ 28 adalah akar genetik berdasarkan survey terhadap 40 kakak beradik yang memiliki kecenderungan orientasi seksual yang menyimpang ditemukan pada lokus XQ28 ini bertanggung jawab terhadap perilaku menyimpang ini, baik kakak beradik ini laki-laki dengan laki-laki, laki-laki dengan perempuan maupun perempuan dengan perempuan. Kakak beradik ini punya kecenderungan sosial yang menyimpang. Kebanyakan laki-laki dari 40 pasang ini sampai 80 orang.
Namun demikian, pada tahun 1995 dalam jurnal Nature Genetiks peneliti dari Cina mengatakan, bahwa lokus XQ28 ini bertanggungjawab pada laki-laki saja. Homoseksual saja. Tidak pada perempuan. Ini membatasi hasil penemuan Dinhammer. Tidak lama kemudian. Peneliti-peneliti selanjutnya menemukan bahwa XQ28 bukan bertanggungjawab terhadap orientasi seksual, tetapi pada kegilaan. Jadi, sejak saat itu XQ28 resmi bertanggung jawab terhadap kegilaan. Termasuk diantaranya homoseksual. Artinya homoseksualitas sebuah bentuk penyakit. Jelas sekali secara genetik. Penyakit ini bukan turunan. Kalau dia berpasangan laki dengan laki tentu tidak punya anak. Atau perempuan dengan perempuan tidak punya anak. Jadi, bagaimana mungkin penyakit itu diturunkan. Kalau dia punya anak dengan yang perempuan berarti punya kecenderungan normal. Dan memang tidak bisa dibuktikan. Tidak ada secara genetik, imbuh Prof. Misrigozan yang pernah menjadi Ketua Konsorsoium Biotekbologi Indonesia tahun 2010-2016.
Kalau pun ada penelitian yang lain, penelitian tersebut berdasarkan statistic. Bahwa ada sekian orang punya kecenderungan seperti ini secara statistic bertanggung jawab terhadap lokus tertentu, akan tetapi waktu itu tidak pernah secara resmi di kedokteran dinyatakan bertanggung jawab terhadap penyakit genetik yang disebut homoseksual atau orientasi seks. Semua adalah masalah kejiwaan.
Banyak penelitian menunjukkan, semua ini pengaruh waktu masa kecil. Pada akhir 1990-an seorang cucu dari pengusaha besar di Amerika yang bernama John Streater. Dia seorang gay. Mendirikan sebuah yayasan khusus yang bernama Argus Foundation dengan dana dari kakeknya seorang pengusaha peralatan kedokteran. Argus Foundation sejak tahun 2000 menggelontorkan dana jutaan dolar untuk mempromosikan LGBT ke seluruh dunia. Ditata strateginya. Masuk ke dalam kampus. Strategi pertama adalah dengan mengumandangkan human rights (hak asasi manusia) oleh para pendukung LGBT. Mereka sendiri sebenarnya bukan gay. Kebanyakan perempuan. Ada 20 yayasan besar pendukung dana untuk LGBT yang bergerak di bidang human rights dan feminisme. Detailnya ada di laporan tahun 2021 Review Financial Support for LGBT Movement.
Dikatakan oleh laporan tersebut terjadi penurunan dari donatur-donatur perorangan, akan tetapi donatur dari pengusaha naik. Hal ini terjadi karena menurut bisnis akan menguntungkan. Benarkah demikian? Wallahu a’lam, kata Prof. Misrigozan sambil bertanya retoris kepada jamaah.
Setelah dasar genetik terbantahkan. Dasar bisnis tidak jelas datanya. Kaum gay menjadikan alasan angka KDRT menurun apabila pasangan LGBT menikah. Benarkan demikian? Data di Amerika menunjukkan pasangan sesama jenis KDRT 26,8%. Jadi, apabila ada 100 pasangan suami istri, 26,8 atau 27 pasangan terjadi KDRT. Sedangkan pada pasangan normal KDRT 0,31%. Hampir 100 kali lipat terjadi KDRT di pasangan LGBT. Secara statistic mereka sendiri sudah membuktikan di Amerika.
Lalu, bagaimana dengan keutuhan rumah tangga? Memang dikatakan kalau rumah tangga itu cinta dan senag sudah cukup sebagai alasan. Tentu saja rumah tangga di sana dengan di sini berbeda. Prof. Misrigozan menjelaskan bahwa angka perceraian di Amerika sangat tinggi, baik yang pernikahan normal maupun yang tidak normal. Pernikahan yang sampai 20 tahun, biasanya sampai 20 tahun bisa terus, 50% yang bertahan pada rumah tangga normal. Bahkan 60% bertahan di atas 10 tahun. Bagaimana dengan rumah tangga LGBT? Yang bertahan 20 tahun hanya 5% atau di bawah 5%. Artinya 95% bubar. Kita lihat definisi bertahan menurut kaum LGBT sangat absurt. Ternyata mereka boleh bertukar pasangan di luar dimasukkan ke dalam. Si suami bawa laki-laki lain ditukar dengan istri yang bawa laki-laki lain. Saling menawarkan dan transaksional. Ini bukan rumah tangga melainkan rumah bordir yang mereka resmikan sebagai institusi rumah tangga.
Jadi tidak heran, lanjut Prof Misrigozan, kalau semua ini berawal dari hawa nafsu yang diumbar dan berujung kepada kegilaan yang tidak pernah kita bisa menolongnya. Dalam surat al-Furqan ayat 43 dan al-Jatsiyah ayat 43.
Surat al-Furqan ayat 43 yang berbunyi:
أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
Artinya: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?
LGBT ini dan segala bentuk penyimpangan lainnya dimulai dari hawa nafsu. Jangan pernah anda mencari secara genetik. Tidak ada. Yang normal adalah karena hawa nafsu. Yang normal maling juga karena hawa nafsu. Apakah anda akan melegalkan maling?! Korupsi juga karena hawa nafsu. Apakah anda akan melegalkan korupsi?! Membunuh juga karena hawa nafsu. Apakah semua hawa nafsu anda akan legalkan?!
Dan Allah mengatakan أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا “Apakah kalian mampu menjadi penolong bagi orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah (Tuhan)?!” Kita tidak akan mampu. Sampai dua kali disebutkan dalam al-Quran. Semua ini mengingatkan kepada kita bahwa mengumbar hawa nafsu maka kita akan terjerumus masuk ke dalamnya sehingga orang tidak bisa menjadi penolong. Lalu bagaimana cara kita menolong mereka? Jangan kita musuhi. Orangnya kita perbaiki. Kita musuhi perilakunya. Kita dakwah kepada mereka. Jangan kita berputus asa dari rahmat Allah Swt.
Allah Swt berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. (QS. Al-Anfal: 24).
Prof. Misrigozan melanjutkan penjelasannya dengan menyampaikan pesan khusus kepada remaja dan pemuda yang senang melihat ketampanan, kebagusan dan keklimisan temannya atau laki-laki lain, lalu timbul pertanyaan, apakah anda punya masalah genetik? Apakah anda punya masalah orientasi seksual yang berubah? Saya katakan dengan jelas, tidak. Anda sedang digoda oleh setan dan begitulan cara setan. Yuwaswisufi shudurin naas. Qurasy Shihab dalam kitab tafsirnya menerangkan bahwa setan bisa masuk ke dalam hati kita dan membisikkan. Penemuan kedokteran tahun 2010 yang mengatakan hati atau jantung manusia punya fungsi berpikir sebagaimana otak yang memiliki 40 juta neuron. Kalau otak punya ratusan milyaran neuron. Jadi, hati/jantung tidak Cuma merasakan akan tetapi juga berfungsi intuitif. Fungsinya menentukan go or not go (lakukan sesuatu atau tidak lakukan), pungkas Prof. Mirsigozan.
Di akhir khutbah Prof. Misrigozan berpesan kepada jamaah agar senantiasa waspada terhadap godaan setan. Minta perlindungan dari Allah Swt. Serta tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kewajiban sesama manusia.



